Saya adalah seorang anak dari keluarga Palembang Yogyakarta dengan peraturan yang sangat keras. Dan kehidupan pun didik dengan kekerasan dan perkataan yang kurang menyenangkan. Disinilah kepribadian ku didik menjadi kepribadian yang keras. Awalnya saya terlahir dengan agama Kristen Protestan , semua terlihat bak baik saja. Saya pun sempat menjadi pengurus gereja dan menjadi guru sekolah minggu. Saya menemukan banyak sekali pelajaran dari agama tersebut, dan saya mencoba mengaplikasikan, tp entah mengapa saya tidak bias dengan keluarga saya. Semua sudah terekam dalam pikiran saya, tetang masa kecil saya, yang akrab dengan gagang sapu ijuk yang patah untuk memukul saya. Saya sedih menangis kecewa dan marah, tp awalnya saya tidak berani untuk berontak.
Keluarga besar saya terdiri dari berbagai agama, Islam, Kristen protestan, dan katolik semua bersama- sama dan tidak ada permasalahan.
Saya tidak betah dirumah, dan gelisah setiap saya pulang karena saya berfikir apalagi yah yang akan terjadi setelah saya sampai rumah, saya sering mengkroscek kesalahan apa yang terjadi pada diri saya. Terkadang saat perjalanan saya kerumah saya suka berfikir tapi entah apa yang saya pikirkan, saya senang saat saya berada dijalan bebas seperti tidak ada beban. Saat saya pulang sekolah berkali- kali saya saat melewati masjid saya suka melihatnya seperti damai tapi entah saya tidak memikirkan apapun. Hingga saat saya pulang dengan jalanan yang sangat macet dan berpuluh puluh kali telepon berderingdari mama dan papa, saya sudah menejelaskan jalanan macet, mereka tidak mau tau dan langsung menutup teleponya. Sesampai saya dirumah saya diomelin abis abisan, dan saya menangis mana kasih saying yang diajarkan orang Kristen dan disekolah sayapun saying rasis yaitu Chiness dengan pribumi. Saya termasuk golongan pribumi, tp beruntung saya sperti cina hingga saya mempunyai teman disekolah. Hingga suatu saat saya dikecewakan oleh teman saya. Lengkap sudah saya hanya mempunya saya dan Tuhan Yesus saat itu, tp entah kenapa saat saya kegereja saya tidak merasakan apa apa lagi. Hingga saya berumur 17 tahun, semua berubah saat saya merasa kembali tersakiti oleh perlakuan mama dan papa yang tega menampar dan menonjok muka saya karena hal yang sepele, mereka melakukan itu sambil memaki saya dengan kata- kata yang tidak sepantasnya. Perlakuan mereka pun memang sangat tidak wajar terhadap saya, bila saya pulang kuliah terlambat saya pasti akan kena marah, padahal traffic kota Jakarta sangat tidak dapat diketahui. Dan saya menangis dan mengadu kepada uwa saya yang terdekat dari rumah untuk menjemput saya, dan kakak sepupu perempuan ku dating dan menjeput saya untuk menginap dirumahnya. Uwa saya adalah keluarga muslim yang taat, mereka sangat penuh kasih sayang, apalagi ibu (bude) yang terlihat sanagat menyayangi anak anaknya. Terkadang aku iri bila ibu mengelus rambut anak- anaknya, karena aku tidak pernah rasakan, mungkin dulu waktu aku bayi. Hingga aku dating ke rumah uwa saya menaruh kepalaku dipundak ibu (bude) dan dia membelai saya, merinding tubuh saya dan menangis. Beliau menanyakan apa yang etradi dirumah hingga saya terkena pukulan, saya menjelaskan sambil menangis, dan setelah itu aku disuruh  untuk tidur bersama kakak sepupu saya  itu. Saat subuh, saya mendengar suara kakak perempuan saya mengaji, dan saya seperti tersentak, walau saya tidak tau apa artinya, tapi seakan saya mengetahuinya. Saya amati mukena yang dia gunakan dan sayapun merasa ingin menggunakannya, tp perasaan ini sangat kuat hingga saya pun bergulat dengan hati. Sempat saya berbicara dengan hati saya “Ya, Tuhan Yesus perasaan apakah ini? Mengapa saya jadi seperti jauh sekali denganMu, dan saya jadi tidak merasakan kau ya Tuhan? Berikan saya petunjuk Tuhan bila memanga saya mempunyai jalan hidup yang berbeda. Amin “.
 Keesokan harinya saya bertanya kepada kakak saya, “ Kak mukena itu untuk apa fungsinya?” Dia pun menjelaksan secara gamblang, dan entah mengapa saya tertarik dan saya pakai dan hati ini seperti meloncat dan saya merasakan hal yang wah sekali. Malam haripun berlalu dan saya bermimpi saa duduk sebelah kakak saya dengan menggunakan mukena, dan saya tersentak bangun dengan kata kata yang tidak pernah saya gunakan sepanjang hidup saya sampai umuur 17 tahun yaitu ASTAGFRIRUWLLAH. Saya merasa senang tapi kaget. Hingga keesokan harinya entah mengapa saya yakin saya ingin bilang saya mau jd mualaf ke kakak saya. Kakak sayapun kaget dan dy tidak memperbolehkan itu, dia suruh saya untuk belajar lebih dalam tentang muslim dan jangan jadikan agama itu mainan, tapi kamu harus cintai dulu. 1 tahunpun berlalu dan saya merasa makin didekatkan dengan berabagai ilmu Islam . Dan saya memutuskan untuk mentekadkan bahwa saya mau menjadi mualaf, krn saya jatuh hati dengan agama ini. Saya pun mencari informasi sendiri dari internet, dan saya menemukan masjid- masjid yang bias memualafkan, dan sya memilih masjid Sunda Kelapa yang dekat dengan daerah saya dan saya tau Masjid itu. Saya pun mejalani pelajaran untuk melafalkan Syahadat, dan saya diantara para mualaf saya paling tercepat mengahafalkannya, dan saya bias dengan baik melakukannya. Dan saat itupun tiba dan saya menelefon kakak saya perempuan bahwa saya ada diMasjid Sunda Kelapa dan akan dimualafkan . Kakak saya kaget dan diapun menelefon UWa dan Ibu juga kakak sepupu saya yang muslim. Dan sayapun di Mualafkan. Hingga 2 tahun lamanya saya menjadi Mualaf, saya Shalat selalu diluar dan saya suka sedih bila saya harus melewatkan shalat saya. Saya juga mencari berbagai ilmu- ilmu dari Internet seperti cara shalat,wudhu, dzikir, dan lainnya. Tapi entah mengapa saya ingin tau dasar- dasar agamanya, sayapun akhirnya mengambil pelajaran agama di kampus dengan yaitu ISLAM. Hal itu pun dipertanyakan dan beruntungnya saya dilayani oleh akademik yang muslim jadi saya bias berkata jujur, karena saya terdaftar di agama Kristen Protestan.
Sayapun mengikuti pelajaran agama itu, dan yah saya bingung dan tidak tau harus apa, karena menggunakan bahasa Arab yang terkadang Indonesia tapi sedikit. Saat ujian pun tiba, dan ada soal dimana itu harus menulis satu surat pendek menggunakan bahasa Arab, dan saya hanya menuliskan surat ke pada dosen saya “ ass, bapak maafkan saya. Saya tidak bisa menjawab soal ini karena saya tidak tau apa yang harus saya tulis, saya mualaf pak, saya mohon bapak mau mengerti, saya sudah belajar tapi saya lupa bagaimana bentuk tulisannya. Bila saya filed dalam ujian ini ga papa pak saya ikhlas, memang saya tidak bsia. Terimakasih bapak. Wass..”
Dan saat pembagian nilai tercantum B dimatakuliah agama saya ALhamdullilah rasanya saya ingin menangis, dan saya menemui dosen saya untuk berterimakasih, day beliau memberikan saya buku tentang Islam.

Ini adalah tahun ketiga dan disinilah saya merasa Allah makin dekat dengan saya, dengan banyak teman- teman saya yang muslim yang mengajak saya shalat duha yang awalnya saya tidak tau apa, dan sayapun mengetahuinya. Dan saya melakukan itu dengan sebatas doa yang saya tau, yaitu Alfateha dan al ikhlas. Dua surat itu yang selalu saya bacakan.

Dan Tahun ketiga ini saya memutuskan untuk memberitahu mama dan papa tentang keadaan saya, karena saya merasa semakin dewasa saya dan saya ingin makin bertumbuh didalam iman saya yang terkadang saya merasa tidak bebas menjalankan agama saya dirumah. Ditambahlagi dengan saya menemukan lelaki yang bisa melindungi saya. Reno adalah lelaki itu dan di duda beranak satu dengan. Dan saya tau masalah perceraian mereka karena Istrinya yang tidak benar, yaitu istrinay memfitnah dia, dan saya mencari kebenarannya, dan yah memang terbukti istirnya tidak benar. Dan sayapun yakin dialah yang bisa membimbing saya, karena dia saya mengerti iqro dan sebagainya, dy selalu mengingatkan saya shalat, puasa dan lainnya. Dewasa dan kebapakaan, yah karena saya merindukan kasih sayang papa, yang tidak saya dapat dari papa. Dan diapun mengajak saya nikah, saya menaggapi dengan bahagia dan saya menerima tawarannya tersebut.
Sayapun datang ke uwa saya untuk berkonsultasi saya ingin jujur  kepada orangtua saya bahwa saya muslim. Dan uwa saya menyetujuinya, karena yanh cepat atau lambat pasti akan diketahui.
Hari yang saya tunggupun tiba, saat uwa saya membicarakan hal ini kepada papa saya, Dia seperti mengerti dan ya sudahlah. Tapi saat uwa tidak ada, saya dikatain say dibilang anjimg bangsat lebih setan dari setan dan dajal, dan lainnya. Hati saya seperti dicabik dan takterbentuk lagi< tapi entah mengapa seperti ada kekuatan dalam diri saya dan memeluk saya kuat, sehingga saat saya menangis, saya menangis bahagia, walau ada sedih tapi tak berasa, malah saya semakin dketa dengan ALLAh dan nikmat nya luarbiasa. Hingga saya dipanggilkan pskiater yang pendeta dari gereja mama, Pendeta dengan gaya yakin dan terus berkata dengan menggebu- gebu berusaha meyakinkan saya tap entah saya seperti makin tidak respect dengan agama saya yang dulu saya semakin yakin ALLAh dan Islam. Hingga pendeta itu menyuruh saya membawa Ustad dan diadu dengan dia soal agama dan bila Ustad menang boleh iris telinga dia, wah hati saya seperti ingin tertawa melihat ulah pendeta itu. Dan sayapun didoakan dan disuruh minum tubuh dan darah yesus, tapi sama sekali tidak tertelan. Subahannallah itu benar benar kekuatan Allah yang menguatkan tekad saya. Hingga suatu hari saya diancam mau dibabptis, rasa bingungpun dating dan akhirnya saya mencari akal dan entah menggapa setelah saya shalat hati saya seperti inginmencari sesuatu diinternet, dan saya ketiklah kata Mualaf, dan keluarlah mualaf centre dengan alamat email, dan saya mengirim email ke alamat semua. Dan alhamdullilah tak berapa lama email saya direspon dan saya mendapat jawaban. Dan saya terus berkontak dengan kak Eca dari pengurus bina Mualaf tersebut. Dan sayapun ketemu dengan Kak Eca, dan dia memberikan buku tuntunan Shalat dengan bentuk yang kecil untuk memudahka saya menaroh ditempat yg tidak memungkinkan dijangkau oleh orangtua saya.
Dan tekananpun mulai datang bertubi tubi, sehingga rasa berontakan pun tiba, hingga aku menghubungi kak eca untuk kabur, dan kak eca pun merujukan aku untuk tinggal di PBHI tapi ak masih memikirkan aku harus apa, dan aku jd mengurungkan niat ku untuk kabur. Tapi disisi lain aku ingin kabur dan menjalankan kewajibanku untuk shalat dan lainnya. Saya sangat sedih rasanya kepalaku mau pecah, hati juga serasa kacaw sekali.

Haripun berlalu dan saat saya mandi pagi dan saya keluar kamar mandi, tiba- tiba buku panduan shalat itu sudah berantakan dikamar saya dengan terobek robek. Hati saya pilu melihatnya dan saya bertanya kenapa buku itu dirobek dan mama papa memarahi saya dan memaki saya, dan mengancam saya akan mengikat saya dirumah. Saya pun tidak boleh keluar rumah dan saya juga tidak boleh berinteraksi lagi dengan luar rumah dan keluarga uwa ku juga keluargaku yang lainnya yang muslim. Lalu mama bilang saya boleh keluar jika saya mau dibabtis, dan saya bilang tidak saya tidak mau. Lalu mama bilang oke kamu tidak boleh keluar, dan saya pun terpaksa bilang iya, dan saya kabur dari rumah dan saya mengontak bina Mualaf . com .  Dan saya ditempatkan  dirumah koko steven dan kak dina, karena disalah tempat yang aman untuk saya, tapi saya menghubungi kakak sepupu perepuan saya, dan akhirnya uwa kupun ingin berbicara dengan ku. Hari mulai malam rasa sedih sangat ada karena baru inilah saya jauh dr kedua orangtuaku, tapi entah mengapa aku menjadi kuat dan tegar, setiap shalat air mataku terurai dan aku berpasrah apapun yang terjadi.  Dan malamnya akhirnya om ku yang muslim menjengukku dirumah om steven, dan dia menyuruhku bagaimana kalau tinggal dirumah dy krn disana aku ada temannya yaitu istri om ku dan anak anaknya. Akhirnya malam itu juga aku diboyong ke sana, dan ak bertemu dengan pacar saya, dan saya sangat sedih melihat dy yang  menjadi tertuduh padahal awal dy betremu dengan saya, saya sudah  muslim. Dy menegarkan saya dengan bilang “ALLAh sayang sama km” dan itu menjadi obat atas kegundahan saya.

Sampailah saya dirumah om saya, keesokan harinya saya harus kuliah, rasa takut cemas krn takut mama menyuruh orang untuk mengambil saya dr kampus dan memaksa saya untuk pulang. Tapi ternyata tidak, aku pulang dengan nyaman, tapi ada hal aneh dari ke 2 sahabatku, tidak biasanya mereka mengintil saya hingga saya mau dijemput. Saya berprasangak klo mereka disuruh oleh kedua orang tua  saya untuk memata- matai saya. Akhirnya saya naik ojek hingga ambassador dan saya bertemu om saya disana.
Malamnya saya sms mama saya agar mereka tidak terlalu cemas, karena saya sangat khawatir dan jujur rasa takut mereka akan kenapa- kenapa. Akhirnya saya sms “ mama Aku ada ditempat yang aman jangan cemas yah ma, ak sayang mama”. Setelah ak mengirim sms tersebut tlp langsung berdering saya tidak mau angkat karen saya benar- benar belum siap mendengar suara mereka. Saya pun belajar iqro diajarkan oleh bibi yang bekerja dirumah om saya, dan saya menikmati sekali, hingga iqro 2.

Keesokan harinya rasa ragu untuk kekampus  pun terasa sekali, dan aku tidak tau mengapa tapi saya ingin tetap kuliah  akhirnya saya berangkat dengan Bismillah semoga tidak ada yang terjadi. Tapi saat tengah pelajaran Student consulor kampuspun memanggil saya, dans aya menatap kedua teman saya, dan yah benar saja mereka yang melapor ke orang tua saya, tapi tidak apa- apa saya harus mengahdapi ini kapanpun itu. Akhirnya saya keluar dengan rasa letih, dan saya disembunyikan di kantor student consulor, awalnays aya tidak jadi diketemukan, tp ak berfikir menimbang nimbang saya kasihan terhadapt ayah saya juga. Disini saya percaya akan kekuatan doa dan kekuatan ALLAh, ak berkata ALLAH tolonglah aku, kuatkan aku, dan kirimlah malaikatMU “. Dan sayapun dioper ke kampus A di wisma darmala, dan didalam taksi perbincangan saya dan kedua dosen saya yaitu pak Sandro yang orang Vietnam dan ibu Alma ornag Menado. Pak sandro “Jujur yah Cynthia saya adalah Muallaf, dan saya sempat mempunyai kisah seperti kamu, emngapa saya sampai ada dijakarta, krn saya dicampakkan, saya dulu adalah katolik”. Dalam hati saya, Ya Allah apakah ini malaikatMU? Ak sanagat bersyukur sekali. Dan ternyata Bu Alma “ Saya juga muslim apa sih salahnya menjadi Muslim?” dan Alhamdullilah ya Allah kau menunjukkan rasa kasih sayangMU kepadaku.
Akhirnya akupun bertemu dengan ayah saya, dengan melotot matanya, akupun berusaha tidak melihat dia. Perbicanganpun panas terjadi  dan saya bersyukur dosenku melindungku, aku tidak bisa berbicara karena saya masih trauma dengan perkataan saya. Jadi saya bicara ke dosen saya dan dosen saya yang menjelaskan ke ayah saya. Dan disana dosenkupun dapat menyimpulkan ayahku seperti apa, dengan pembicaraan yang diputar balikan, dan pembicaraan yang diputar putar terus, dan ayaku tidak mau mengerti setiap pembicaraan dari dosen ku. Akhirnya diputuskalah ak tidak boleh pulang dan aku diwalikan ke om ku.
Sesampai ak dirumah omku, ayahku menelepon ku untuk membujuk aku pulang dengan mengacamku. Ak akhirnya bilang ak akan pulang jika aku boleh shalat dan sebagainya dan aku tidak dipaksa paksa untuk melakukan hal yang tidak aku suka seperti ke gereja dan lainnya. Akhirnya iya memegang janjinya dan hari senin aku pulang.
Dan mereka memegang omongan mereka walau terkadanng masih suka terjadi ancaman tapi tidak terlalu keras, dan terkadang aku suka seperti tidak dianggap> dan saya bisa melakukan shalat dengan baik , terpenting untukku ALLAH selalu bersama saya. AMin…