Yayasan Bina Insan Muallaf

1.Latar Belakang

Diluar pengetahuan kita, banyak sekali masyarakat non Muslim yang secara tidaklangsung tersentuh oleh akhlak atau ajaran Islam,  hal ini bisa terjadidisebabkan pergaulan sehari hari dengan orang terdekat yang Muslim, lingkunganyang mayoritas Muslim atau juga  kebenaran ajaran Islam yang dapatditerima dengan logika bahkan dari mimpi.
Untukmereka kalangan non Muslim sangatlah tidak mungkin mereka bisa langsungmenyadari bahwa itu adalah sentuhan hidayah  Allah.SWT, karena merekabelum mengenal Allah.SWT, bahkan adakalanya bagi  sebagian masyarakat atauras tertentu  menerima ajaran dan memeluk agama  Islam adalah sangattabu, sehingga tentulah sangat sulit bagi mereka untuk bisa lebih lagi memahami hidayah yang mereka terima.
Namunada juga sebagian dari mereka dengan yakin dan  mantap menyatakan untukmemeluk agama Islam meskipun ada penolakan dan pertentangan dari lingkungan nyabahkan orang-orang terdekat mereka.Tidak sedikit dari mereka yang relameninggalkan pekerjaan, harta, keluarga mereka dengan resiko kehilangankehidupan mereka yang sebelumnya berkecukupan harta dan kasih sayang yangditukarnya dengan kehidupan yang terkucil dan masa depan yang seakan suram.
Merekapara calon Muallaf dan Muallaf  ini memerlukan bantuan ,perhatian dan bimbingan untuk menjadi muslim yang kuat dan kaaffah, oleh karenanya upayauntuk mewujudkannya adalah suatu keniscayaan.
Terdorongdengan  gambaran nyata diatas, maka tercetus ide untuk membentuk komunitaspembinaan muallaf  ini  yang diawali di Bandung denganberkumpulnya beberapa muallaf pada 30 Mei 2010 dan kemudian berlanjut denganmengadakan pembinaan rutin untuk muallaf ditiap minggunya di bawah bimbinganUstadzah Athia Tsafitri, LC. Kemudian kegiatan ini terus berlanjutk di JakartaBarat dan Jakarta Selatan yang dibimbing oleh KH. Hamzah Hasan, LC, MA.
Agenda tersebut terus berlangsung, sehingga diambil suatukesimpulan kegiatan ini harus memiliki legalisasi hukum guna menghindari fitnahsehubungan dengan menjamurnya aliran sesat di tanah air. Dengan berbekal niatbaik dan memenuhi panggailan agama maka yayasan BISMILLAH yang memilikikepanjangan Bina Insan Muallaf Menuju Hidayah diresmikan di Notaris NegaraNiniek Rustinawati Wibisono, SH, Mkn, Perkantoran Mitra Matraman blok A-2No  Jl Raya Matraman No 148  Jakarta Timur pada tanggal 10 Agustus2010

A.Landasan-landasan 
1.Ideologis   
   Al Qur’an
  • 60. Sesungguhnya zakat-zakat itu, hanyalah untuk orang-orang fakir, orang-orang miskin, pengurus-pengurus zakat, Para mu’allaf yang dibujuk hatinya, untuk (memerdekakan) budak, orang-orang yang berhutang, untuk jalan Allah dan untuk mereka yuang sedang dalam perjalanan, sebagai suatu ketetapan yang diwajibkan Allah, dan Allah Maha mengetahui lagi Maha Bijaksana. ( QS. At-Taubah:60 )
  • 4. Sesungguhnya Allah menyukai orang yang berperang dijalan-Nya dalam barisan yang teratur seakan-akan mereka seperti suatu bangunan yang tersusun kokoh. ( QS. As-Shaff : 4 )
  As-Sunah
حَدَّثَنَا مُوسَى بْنُ إِسْمَاعِيلَ حَدَّثَنَا وُهَيْبٌ حَدَّثَنَا عَمْرُو بْنُ يَحْيَى عَنْ عَبَّادِ بْنِ تَمِيمٍ
عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ زَيْدِ بْنِ عَاصِمٍ قَالَ لَمَّا أَفَاءَ اللَّهُ عَلَى رَسُولِهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ
يَوْمَ حُنَيْنٍ قَسَمَ فِي النَّاسِ فِي الْمُؤَلَّفَةِ قُلُوبُهُمْ وَلَمْ يُعْطِ الْأَنْصَارَ
Telah disampaikan kepada kami dari Musa bin Ismail yangtelah disampaikan oleh Wuhaib yang telah disampaikan oleh Amru bin Yahya dariAbbad bin Tamim  dari Abbullah bin Zaid bin Ashim berkata : ketika Allahmengkaruniakan kepada rasulnya harta rampasan dalam perang hunain beliaumembagikannya ( harta tersebut) kepada para mualaf dan tidak membagikannyakepada kaum anshar sama sekali ( HR. Bukhari).
عَنْ أَبِي مُوسَى عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ إِنَّ الْمُؤْمِنَ لِلْمُؤْمِنِ كَالْبُنْيَانِ
يَشُدُّ بَعْضُهُ بَعْضًا وَشَبَّكَ أَصَابِعَهُ
Dari Abi Musa bahwasanya Rasulullah SAW bersabda : Mukminsatu bagi mukmin lainnya ibarat bangunan yang saling menguatkan satu samalainnya dan beliau merapatkan jemarinya (HR. Bukhari)
   Atsar Shahabah
Kebenaranyang tidak teratur dan terencana akan dikalahkan oleh kebathilan yang terencanadan rapi  (Imam Ali bin Abi Thalib Radhiallâhu ‘anhu).
1.Landasan Konstitutional.   
   UUD 45 Pasal 28E :
    Setiap orang berhak atas kebebasan berserikat, berkumpul dan mengeluarkanpendapat
   UUD 45 Pasal 29:
  1. Negara berdasarkan Ketuhanan Yang Maha Esa
  2. Negara menjamin kemerdekaan tiap-tiap penduduk untuk memeluk agamanya masing-masing dan tunduk beribadat menurut agamanya dan kepercayaannya itu.